Komisi II DPRD Lampung Segera Cek Lokasi Perusahaan Penambangan Batu Dengan Bahan Peledak di Natar

WARTAPOST.ID, Bandar Lampung — Komisi II DPRD Lampung akan segera mengecek lokasi PT Bangun Lampung Jaya yang berada di Dusun Sumber Sari, Desa Mandah, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Hal tersebut, berdasarkan laporan dari masyarakat Desa Mandah, perusahaan penambangan batu Marmer atau Kapur (Pertanian) itu melakukannya peledakan sehingga menyebabkan 80 rumah warga alami rusak.

Ketua Komisi II DPRD Lampung Wahrul Fauzi Silalahi menegaskan, pihaknya akan mempelajari terlebih dahulu laporan dari masyarakat Mandah ke Komisi II DPRD Lampung tadi, Selasa (30/3/2021). “Ya tadi kita sudah mendapatkan pengaduan dari masyarakat Desa Mandah di Dusun Sumber Sari, Kecamatan Natar Lampung Selatan. Terkait adanya aktivitas perusahaan yang mengakibatkan beberapa rumah warga retak-retak dan beberapa tahun lalu adanya korban,” kata Wahrul Fauzi Silalahi.

Menurutnya permasalahan itu sangat serius, sehingga pihaknya akan mempelajari terlebih dahulu, sebagai komisi II DPRD Lampung yang membidangi pengawasan lingkungan hidup, maka akan segera memanggil pihak terkait dan perusahaan tersebut.

Selain itu juga, pihaknya akan melakukan pengecekan ke lokasi keberadaan penambangan batu Marmer PT Bangun Lampung Jaya. “Karena kita belum tahu situasi dilapangannya seperti apa, maka kita akan cek lokasi dulu. Karena kita belum bisa menyimpulkan. Setelah itu baru kita akan panggil Dinas terkait dan pihak Perusahaan,” kata Politisi NasDem itu.

Karena kata Wahrul, setiap laporan yang masuk, pihaknya sebagai wakil rakyat berkewajiban untuk menindaklanjuti laporan tersebut. “Secepatnya kita panggil Dinas terkait dan lain lainnya,” tegasnya.

Sementara itu, Satari warga Desa Mandah Dusun Sumber Sari saat di Komisi II DPRD Lampung mengungkapkan bahwa dirinya mengadukan aktivitas perusahaan penambangan dengan bahan peledak tersebut ke Komisi II karena masyarakat sudah merasakan dampak negatifnya.

“Salah satu dari 8 poin itu, kami meminta agar menghentikan peledakan, kemudian debu dan limbah. Karena perusahaan ini awalnya merupakan tambang Marmer, kemudian beralih fungsi diambil batunya digiling untuk diambil bahan kapur,” kata Satari.

Menurutnya Perusahaan Penambangan Batu Marmer itu beroperasi sekitar tahun 1987, kemudian timbulnya peledakan itu pada tahun 2003.“Dampak yang kami rasakan yakni rumah-rumah retak, dan adanya suara-suara keras (akibat peledakan). Jadi selain bangun rumah, dampaknya lainnya adalah kesehatan masyarakat,” ungkapnya.

Bahkan, lanjut Satari, akibat peledakan itu batu sempat sampai ke perkampungan dan masuk ke dalam rumah warga.“Kami memang tidak meminta ganti rugi. Karena kami meminta agar peledakan itu dihentikan agar masyarakat merasakan ketenangan,” jelasnya.

About the author: admin

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *